Kerana Kesunyian

(Ini adalah fragmen dari akhir-kata yang saya sedang usahakan untuk buku puisi sulung saya yang bakal diterbitkan nanti pada masa-masa yang terdekat ini, jika diizinkan Tuhan.)

***

Seperti kata Borges, ‘Penyair itu tidak akan pernah merasa lelah (berkarya).’, Kerana apa? Kerana kesunyiannya. Dan kerana kesunyian itu, si penyair tak akan bisa menemukan masa rehat; walau dalam tidur sekalipun dia akan tetap menggumam sajak-sajaknya.

Dan menarik juga jika diambil dari pandangan Dr. Rahman Shaari yang mengusulkan teori kesunyiannya itu: Manusia bersengketa kerana kesunyian hidup. Dan penyair itu menulis dan bergelutan dengan usaha-usaha kepenyairannya itu juga adalah kerana kesunyiannya. Dan Rilke juga saya kira mempersetujui ini. Malahan tidak keterlaluan jika saya mengatakan di sini yang rata-rata penulis juga akan mempersetujui jika kita mengandaikan bahawa kesunyian itulah yang sebenarnya menjadi teras pada semua desakan untuk menulis. Bahkan ia juga adalah teras untuk menggerak aktiviti-aktiviti yang menghubung manusia sesama manusia, terutamanya aktiviti kreatif itu.

Mungkin, bagi seorang penyair, kesunyian itu adalah ‘the Will’, Muse-nya, atau pendorong bawah sedarnya yang — seperti alir sungai yang tak pernah lelah — sentiasa mengasak dan menarik jiwanya untuk terus menggenggam pena dan menyulam kata-katanya pada sekeping kertas kosong tanpa mengirakan konsekuensi mahupun ganjaran apa yang bakal diperoleh dan ditanggung olehnya di masa hadapan.

Dan bagi saya sendiri, kesunyian itu yang benarnya adalah ekstasi seorang penyair. Tanpanya, permainan imaginasi di dalam puisi itu bisa jadi keras dan mati.

 

Advertisements

The Poet vs The Philosopher

The poet presents the imagination with images from life and human characters and situations, sets them all in motion and leaves it to the beholder to let these images take his thoughts as far as his mental powers will permit. That is why he is able to engage men of the most differing capabilities, indeed fools and sages together. The philosopher, on the other hand, presents not life itself but the finished thoughts which he has abstracted from it and then demands that the reader should think precisely as, and precisely as far as, he himself thinks. That is why his public is so small. The poet can thus be compared with one who presents flowers, the philosopher with one who presents their essence.

– Arthur Schopenhauer

Extracted from the book ‘Arthur Schopenhauer Essays and Aphorisms‘ in a chapter titled ‘Aphorisms On Philosophy and the Intellect’ section 4; book published by Penguin Classic, translated by R. J. Hollingdale.

A Mere Shadow-Play on the Wall

Newspapers are the second hand of history. This hand, however, is usually not only of inferior metal to the other two hands, it also seldom works properly. The so-called ‘leading articles’ in them are the chorus to the drama of current events. Exaggeration in every sense is as essential to newspaper writing as it is to the writing of plays: for the point is to make as much as possible of every occurrence. So that all newspaper writers are, for the sake of their trade, alarmists: this is their way of making themselves interesting. What they really do, however, is resemble little dogs who, as soon as anything whatever moves, start up a loud barking. It is necessary, therefore, not to pay too much attention to their alarms, and to realize in general that the newspaper is a magnifying glass, and this only at best: for very often it is no more than a shadow-play on the wall.

– Arthur Schopenhauer. Taken from ‘Arthur Schopenhauer Essays and Aphorisms‘ published by Penguin Classic, translated by R. J. Hollingdale.