Klimaks

Satu perkara yang saya boleh simpulkan tentang pembacaan cerpen ialah pembacanya jarang-jarang dapat klimaks di akhir penceritaan. Ianya sekadar hubungan kelamin yang berulang-ulang tanpa kepuasan akhir. Tapi itu bagi saya paradoks pembacaan cerpen. Tak seperti novel, pembaca cerpen tak menjangkakan turutan foreplay, coitus, klimaks dan resolusi daripada karya seorang cerpenis. Sebuah cerpen mungkin saja hanya sebuah foreplay, atau ulangan coitus yang sama, atau rakaman sebuah resolusi dari fiksyen yang lupus tetapi ia tidak pernah sebuah klimaks. Secara mudahnya saya katakan, pembaca cerpen mahu ditinggal terkapai-kapai di dalam pelayaran pembacaan mereka. Mereka, atas sebab dan alasan yang saya tak dapat nak jelaskan, mahu dikecewakan. Dengan berulang-ulang kalinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s