Di Suatu Pagi Tangan Setumbuk Gumpalan Tanah Merah

Kami menggenggam tangannya sendat, dengan tawar menawar pulangan anugerah dan dosa-dosa gugur seperti kekelopak sayap kupu-kupu yang disapu mentega. Di hari-hari kebiasaan, kami memandang warna-warni desa dengan rasa kesal dan keterujaan; pertanyaan selalu mengusik-usik kami dengan hujung rambut diikat tocang: sudahkah kamu bertemu dengan pertemuan?

Untuk berdiri di hujung mata pensil, dunia terlebih dahulu harus menjerut lehernya dengan seutas tali ketakpastian.

September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s