Adiwira

Pekik suaramu yang melalukan darah dengan pelan di sepanjang perparitan yang menghubungkan gegendangku dengan cahaya. Seketul hati yang kuperam kini berderai membentuk segerombolan komet yang menghentam kesedaranku. Kau menyarungkan mantelmu ke tubuhku yang tidak lagi mahu merasakan kehangatan.

“Terbanglah kau, menjadi adiwiraku.” bisikanmu persis bisikan yang pertama kau hembuskan. Aku pun menjadi debu. Seketika menegap kembali sebagai pepejal yang mati. Sebelum nyawaku yang seterusnya ditiupkan kembali ke dalam tubuh

“Untuk sekelian kalinya, sebagai adiwiraku.”

Bisikanmu terus meresap ke permukaan belulangku seperti aroma ibu yang menyamankan.

Dan aku melihat langit yang menghulurkan tangan. Yang seketika membersitkan petir sebagai tunggangan

[2015]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s