WORDS, Poetry by Lawrence Klein

WILDsound Writing and Film Festival Review

Genre: Rhyme, Text

WORDS
by Lawrence Klein

Are words our masters, or are they our slave?
A hopeless conundrum, but let me save
You from this riddle. For it is only speech,
Internal and externalized which requires the reach
For definitions of ideas, conceptions, and thought
Which are inherent to mankind, and need not be taught.
But words are not plastic, but rigid and fixed,
And it matters not how they are mixed,
they still must mean what the dictionary said,
and they structure the ideas that go on in your head.
So, until you slip their slippery noose
And really let your mind go loose,
to wander through emotion, sensation and space,
you’ll never understand, the meaning of grace.

Copyright Lawrence Klein 1972

* * * * *
* * * * *
* * * * *
Deadline for POETRY Festival – Get your poem made into a…

View original post 30 more words

Zamrud

Yang pastinya, bilang penyair tua itu, perkara-perkara yang dulunya sangat penting dan istimewa buat seorang manusia itu juga lambat laun akan berlalu sebagai perkara-perkara yang banal, yang trivial. Dan kerja seorang penyair atau penulis itu aku kira, adalah untuk mengembalikan perkara-perkara ini kepada daerah keistimewaannya, memberi nilai semula kepada kepentingannya; untuk mengasingkan dan menarik keluar zamrud dari dalam serakan kerikil-kerikil jingga di jalanan.

Padam Aku

[Suara di dalam naratif]

Aku di dalam kalut. Hidup aku kacau. Tolong padam aku. Tolong. Padam aku dari naratif kau, kawan-kawan kau, keluarga kau dan manusia-manusia yang mengenjet di atas wayar yang tertegang dari satu ufuk merentas ke satu ufuk yang lain. Tolong. Padam aku.

2015

Adiwira

Pekik suaramu yang melalukan darah dengan pelan di sepanjang perparitan yang menghubungkan gegendangku dengan cahaya. Seketul hati yang kuperam kini berderai membentuk segerombolan komet yang menghentam kesedaranku. Kau menyarungkan mantelmu ke tubuhku yang tidak lagi mahu merasakan kehangatan.

“Terbanglah kau, menjadi adiwiraku.” bisikanmu persis bisikan yang pertama kau hembuskan. Aku pun menjadi debu. Seketika menegap kembali sebagai pepejal yang mati. Sebelum nyawaku yang seterusnya ditiupkan kembali ke dalam tubuh

“Untuk sekelian kalinya, sebagai adiwiraku.”

Bisikanmu terus meresap ke permukaan belulangku seperti aroma ibu yang menyamankan.

Dan aku melihat langit yang menghulurkan tangan. Yang seketika membersitkan petir sebagai tunggangan

[2015]