Hidup Dalam Solitud (Sonet No. II)

Di luar, awan masih meluruh hujan
ia tidak mahu meninggalkan petang
terkadang timbul sebaris pertanyaan
apakah langit tak merindukan terang?
Dini camar muncul terbang berlayangan
di sayapnya terekap gurindam lalu
di luar jendela umurku berjalan
menunda nasib kehidupan yang pilu.
Pernahkah kau bertugu di dalam masa?
di saat sedarmu lolos dari nyata
dan nalar dipegun semua persepsi;
pentas menggarap pengertian kendiri.
:Tabir siang masih belum digantikan
‘tuk kita melerai sesimpul ikatan.

[Disember, 2014]

Fragmen dari Perpisahan

…..

Kapal kasih pun berlayar lirih
jauh dari pelabuhan hati,
dan membawa dongengku pergi
ke sebuah tanah dataran
yang lebih menghijau.

Aku tertinggal kelu,
di tepian titi yang menambat
berahi-berahi malamku
dari terhanyut ke lautan
maha, sementara
lambaian tanganmu terus

semakin kabur,

semakin jauh,

semakin kabur,

semakin jauh,

kabur,

jauh….             menghilang.

Dan kau hilang bersama deru.

***