Pengebumian Si Pengarang

Aku mencari-cari
kelibat si Pengarang;
di timbun-rimbun buku-buku tua;
di helai-helai jurnal akademia;
di bait-bait syair dan puisi-puisi luka;
di selak-selak tabir mimpi-mimpi manusia.

Tidak ada, tidak ada.

Yang tertinggal hanya
huruf-huruf kara
di lembar-lembar kebiruan;
Mereka tertiarap tanpa nyawa.

Bertalu aku dihambat pertanyaan:
di mana Homer?
di mana Schopenhauer?
di mana Nietzsche?
di mana Hesse?
di mana Borges?
di mana mereka?

Tidak ada, mereka tidak ada.

Yang tertinggal hanya
pertarungan idea;
kini sedang berlangsung
tanpa suara bicara.

Yang bergema cuma
spekulasi-spekulasi ngeri;
datangnya tak berintonasi.

Nanti, nanti dulu, dengarkan
Itu kedengarannya seperti gema talkin
datangnya dari kuburan penghimpun kata

Nanti, nanti dulu, hidukan
Ini yang menusuk hidungku
adalah bau dari asapan kemenyan

Kini semakin jelas, semakin jelas semuanya
ini memang benar, memang benarlah pemberitaannya!

Si Pengarang telah mati! si Pengarang telah mati!
Ini hari pengebumiannya si Pengarang!!!

(muzik berarak melo termain di belakang)

Dan aku tidak dengar
lagi, ratap tangis
si gadis yang mengiringi
pemergian mereka.

[Nov, 2014]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s